Bertumbuh lah, Tersemailah

      (Ket foto: santri MI RM Putra sedang membaca buku di hari "Reading Day")


Bacalah maka kamu akan dikenal. Lalu menulislah lalu kamu akan abadi. Itu kira kira kesimpulan yang sering saya temukan dalam beberapa motivasi. Saya adalah seorang santri yang terjebak dalam dunia pengajar. Mengapa saya bilang terjebak?, Sebab tak pernah terbesit sedikitpun di dalam pikiran saya untuk mengajar. Meskipun jurusan yang saya pilih sewaktu kuliah berkaitan dengan pendidikan. Namun itu pun saya memilihnya hanya berdasarkan insting. Akhirnya disinilah saya, sebuah sekolah pendidikan dasar yang berbasis integral dengan perpaduan program Qur'an serta kecerdasan intelektual. 

For your information, memang benar ibu saya dulu pernah mengajar juga. Tapi bukan berarti saya harus jadi guru kan?. Sejak semester 6 di perkuliahan saya sudah merasakan betapa ribetnya seorang guru. Sebelum mengajar guru harus menyiapkan perangkat mengajar yang banyak sekali itu, ditambah lagi saat mengajar guru harus bisa menguasai suasana kelas. Mungkin jika tingkat SMP dan SMA masih agak nurut jika kita menertibkan. Namun bagaimana jika tingkat sekolah dasar?. Ya itulah yang pertama kali saya rasakan. Kepala saya seperti kehilangan keseimbangan. Nalar saya sempat tak bekerja, yang akhirnya membuat saya mengambil tindakan yang diluar kendali saya. Saya melakukan kekerasan kepada anak kecil yang bahkan mereka hanya ingin bercanda ria saja. Tapi bagi saya yang awam di dunia anak-anak ini, tidak ada lagi kesabaran yang tersisa. Bisa dikatakan awal saya mengajar itu hampir semua kelas yang siswanya sudah pernah saya pukul. Yaallah jika membayangkan peristiwa itu saya merasa berdosa sekali.

Tepat setahun lalu saya pertama kali mulai mengajar di sekolah ini. Dan sekarang saya sudah sedikit betah. Mungkin karena saya dipercaya memegang kamera dan Mengedit. Itulah hobi yang saya suka sejak di bangku kuliah. Karena menurut saya orang yang pandai mengambil gambar dengan kamera adalah orang yang mempunyai rasa seni yang cukup tinggi. Karena fotografer itu bukan sekadar main pencet pencet saja. Jauh daripada itu ialah mengabadikan momen yang mungkin tak akan pernah terulang kembali lagi. Akhirnya saya sering memotret momen yang dilakukan santri MI disini. Baik itu candid ataupun disengaja dalam beberapa acara. 

Kita tak pernah tau kemana takdir membawa kita. Yang pasti apapun pelabuhan transitnya, pastikan kita selalu belajar di tiap pelabuhan itu. 


"Siang menjelang ashar, 27 Feb 2023"

Komentar

Postingan Populer