Kita bertemu lewat dimensi Doa

  


      Aku mulai lupa kapan terakhir kali kita berjumpa. Hanya saja jika di reka reka, waktu itu engkau terbaring lemah menahan perihnya sakit di atas Kasur. Yaitu momen idul fitri terakhirmu dengan ku. Setelah itu, aku kembali menjalani dinamika mencari ilmu di kota minyak Balikpapan.
      Hari pertamaku manjadi siswa putih abu-abu. Ada rasa yang beda dengan masa smp. Pada masa ini umurku mulai dewasa, pikiran pun sudah tak kekanak kanakan lagi. Hari pertama masuk sekolah dan hari-hari berikutnya terasa begitu cepat. Setelah 3 bulan, di sekolahku diadakan porseni(Pekan olahraga dan seni). Acara ini diadakan guna mengisi waktu liburan yang cukupsingkat. Disamping itu juga melatih jiwa korsa (kesatuan) dari para murid.
     Sewaktu diadakan lomba futsal, tepatnya di halaman sekolah, aku ikut menyaksikan jalannya pertandingan. Sebab aku tak pandai dalam menggiring si kulit bundar itu. Ada saja aksi kocak para pemain  yang membuat penonton tertawa, tak terkecuali diriku. Momen itu menjadi momen yang cukup bahagia selama aku kelas 1 SMA. Beberapa saat kemudian seorang siswa memanggilku. “Ned”, sapaan akrabku. “kamu dipanggil sama seorang guru” lanjutnya. Aku pun bergegas menuju ruang guru. Dengan santai guru itu memberikan telpon kepadaku. Dalam hatiku mungkin dari keluarga di kampung. Sesaat kutempelkan telpon genggam itu, samar-samar suara ibuku di seberang. “Nak, kamu ikhlas kan kalau punya kita diambil Allah” ibu langsung memulai pembicaran. Pendengaranku ibu mengatakan itu dengan nada biasa biasa saja. Jadi aku tak terlau menggubris perkataannya. Ia pu melanjutkan “Bapakmu sudah meninggal dunia nak”. Seketika sekujur tubuhku terasa lemah, handphone yang kupegang hampir saja jatuh. Namun raut wajahku biasa saja, sebab malu dengan teman-teman yang melihat. Akan tetapi hatiku bagai di hantam sejuta Meriam, rasanya sakit yang bertubi tubi.
       Panggilan telpon ibu ku akhiri biar aku tak terlalu bersedih hati. Guruku menenagkan aku dengan mengatakan “yang sabar ya. Semua didunia ialah titipan Allah SWT”. Mataku memang tak mengeluarkan air, tapi hatiku menangis sejadi-jadinya. Orang yang menjadi panutan dalam keluargaku pergi meninggalkan kami semua. Beliau yang bercucur keringat demi sesuap nasi untuk kami, lebih disayang Allah SWT.
       Diantara kami 7 bersaudara akulah yang sering dibilang duplikat dari ayahku. Wajah kami bagai pinang dibelah dua, pun dengan sifatnya. Tanda yang paling menonjol diantara kami ialah kulit hitam dan lesung pipi. Perlahan ingatanku bersamanya mulai dari kecil seperti terulang kembali. Masa dimana ia menghadiahiku sebuah mobil-mobilan. Memori dimana aku dipaksa Sholat di masjid pada umur 7 tahun. Saat dimana aku tertawa bersamanya, dan saat terakhir pandangan kami bertemu. Setelah aku ke Balikpapan, ibuku membawa ayah ke Batam guna berobat dengan kapal Pelni. Lantaran alat-alat medis di kampungku sangat terbatas. Akhirnya beliau menghembuskan nafas terkahirnya di kota Industri itu.
      Aku terkaget dari lamunanku 6 tahun silam, setelah mendengar suara adzan dzuhur. Sekarang aku sudah duduk di bangku kuliah. Tepatnya di Pesantren Hidayatullah Surabaya. Alhamdulillah saat ini aku sudah sampai di semester 6. Segera ku ambil wudhu dan menuanaikan sholat dzuhur di masjid Aqshal Madinah. Setelah sholat aku makan siang dan lanjut kuliah siang bersama teman-teman.
      Ada pandemi yang sedang menimpa seluruh ummat manusia. Tersebar sebuah virus yang berasal dari china. Virus ini rupanya sangat mudah menyebar, akhirnya lama-lama beberapa negara mulai terjangkit. Awalnya Indonesia sendiri belum merasakan dampaknya. Hanya beberapa Tki dan Tkw Indonesia dipulangkan yang berada di china. Setelah beberapa minggu barulah Indonesia juga ikut terjangkit virus itu. Pertama kali yang postif di temukan di kota Depok. Hari demi hari virus itu merajalela hingga sampailah di provinsi Jawa Timur.
      Pemerintah provinsi menginstruksikan seluruh bawahannya untuk social distancing. Maksudnya jaga jarak antar sesama. Setelah itu Mendikbud mengeluarkan surat untuk para aktivis pendidikan untuk tidak melaksanakan pemebelajaran di sekolah, mulai dari Tk-Perguruan Tinggi. Berhubungan kampusku di bawah naungan yayasan maka, surat keputusannya dikeluarkan oleh yayasan Hidayatullah Surabaya. Awalnya di berikan libur di rumah mulai tanggal 16 maret – 21 maret 2020. Terkhusus kami yang mahasiswa tetap di pondok saja.
      Sebenarnya sangat tidak adil, mengingat smp dan sma di pondok kami diliburkan. Akan tetapi yang kami tak bisa berbuat apa-apa. Setelah 6 hari aku sendiri merasa bosan. Akhirnya aku menghubungi ibuku untuk mengizinkan aku pulang. Anehnya aku tidak meminta pulang kampung, melainkan ke Batam. Setelah keesokan harinya, ibu meminta izin kepada ustzdz. Alhamdulillah aku pun diizinkan dengan syarat tetap menjaga diri dari wabah mengerikan itu.
      Tepat pada hari Ahad 22 maret , aku terbang dari Surabaya menuju bandara Hang Nadiem Batam menggunakan pesawat lion. Kebetulan kakak perempuan ku yang di batam menjemput. Sebelumnya ibuku berpesan bahwa ketika sampai aku langsung berziarah ke makam Ayah. Pun dalam hatiku sejak di Surabaya sudah ada niat itu. Lalu kakak ku mengantarku ke pemakaman ayah. Tak pernah terbayangkan kakiku bisa menginjak kota The Obeng. Rupanya masih banyak sekali hutan di kota ini, dan beberapa lahan kosong yang kata kakakku hendak dibangun perusahaan.



"Teruntuk Almarhum Ayahanda Abdullah Zakaria"💙💙💙

Postingan Populer