Covid-19 kacamata Manajer Pendidikan
Sudah 1 bulan lebih, virus yang dikenal dengan nama covid-19 melalang Buana di NKRI tercinta ini. Penyebaran nya yang masif, membuat semua lini kalang kabut. Baik dari pemerintah pusat sampai tingkat terendah, masyarakat di desa.
Virus ini juga berdampak bagi ekonomi, sosial, politik, budaya, dan pendidikan. Imbasnya, para pelajar di himbau untuk diam dirumah. Mengurangi kerumunan yang ada di jalanan, sekolah-sekolah, pasar, dan tempat keramaian lainnya. Sebab covid-19 ini mudah sekali berkembangbiak di tengah kumpulan orang banyak.
Beberapa masjid terpaksa tidak beroperasi sebagaimana biasanya. Guna memutus mata rantai partikel kecil nan berbahaya itu. Dampak lain yang juga sangat condong, yakni pendidikan. Mendikbud sudah memerintahkan untuk mengadakan daring atau belajar online.
Mulai dari tingkat sd hingga perguruan tinggi, semuanya melaksanakan perintah tersebut. Kebetulan penulis sekarang menempuh pendidikan pada jenjang perkuliahan. Tepatnya di kota Surabaya, di Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL), Ponpes Hidayatullah. Kami pun baru melaksanakan daring terhitung sejak hari ini.
Tentunya ada kelebihan dan kekurangan dari metode pembelajaran ini. Salah satu kelebihannya praktis, bebas tapi sopan, dll. Pun sebaliknya, ada sisi kekurangannya mulai dari tidak punya media, sinyal yang tidak mendukung. Bahkan lockdown lokal sehingga belum mempersiapkan kuota untuk daring. Bagi mereka yang ekonomi menengah keatas dan berdomisili di kota ini bukanlah suatu problem. Naasnya, mereka yang tinggal di pedalaman, sangat kesulitan dalam metode pembelajaran kekinian ini.
Salah seorang teman penulis contohnya, ia tinggal di pedalaman Sulawesi tengah, tepatnya di desa morowali. Saking gregetnya beliau sampai menulis di salah satu pesan whatsapp, "Bagi dosen yang kurang pengertian, coba kita tukaran tempat, bapak disini dan saya di tempat bapak. Pasti bapak mengalami hal yang sama seperti memanjat pohon kelapa demi sebuah sinyal".
Semoga curhatan hati salah seorang teman ini bisa menjadi bahan evaluasi para penegak kebijakan, dan terkhusus kepada dosen terkait.

