Rasa yang paling bermakna




Bapak
Abdullah Zakaria

Pada pipinya ada sebuah lubang laksana palung di lautan
Pada kucuran keringatnya terselip tetesan rindunya 
Pada hembusan nafasnya bersemayam harapan yang indah
Pada setiap senyumannya terlukis sejuta cinta

Bapak, begitu kami memanggilnya
Walau waktu kami cukup singkat, seperti waktu maghrib ke isya
Dekapan doa kami akan mampu memeluknya disana
Orang-orang tak banyak mengenalnya
Pun  kami yang darah dagingnya tak banyak tahu seluk beluknya

Setahu kami…
Ia menjelma menjadi selimut saat kami kedinginan
Berubah menjadi payung saat kami kehujanan
Menjadi tiang untuk melepas lelah walau sebentar
Dan Bapak bermetamorfosis menjadi fondasi tempat kami berpijak

Bapak….
Semoga kami semua bisa menjadi amal jariahmu, Aamiin









Mama
Siti Kadijah

Kerasnya wataknya,
 Walau bagaimanapun
Ia pendamping setia Bapak kami
Sehari hari ia menjadi pendidik
Jika aku mengantarnya ke pasar ada saja muridnya memberi buah tangan
Muridnya ada yang formal dan informal
Kami semua termasuk murid informalnya

Kami bersyukur, dengan tegasnya ia mendidik kami mampu survival
Cukup lama ia mengabdi pada dunia pendidikan
Wajahnya perlahan mulai keriput
Sekarang ia mengurus dokumen kelurahan
Bahkan sudah hampir pensiun dari profesinya

Berada di dekatnya serasa bernaung dibawah poho beringin
Dikala sinar matahari membuat bumi seperti neraka
Mama paling tahu kegemaran dan kemauan kami
Barang-barang kami yang ia beli selalu cocok 

Mamaku ini juru bicara yang cukup lihai
Jika salah seorang kami bertikai, ia langsung meredamkannya
Mama ….
Kami berjanji akan mengembalikan senyummu seperti sedia kala
Seperti pertama kali Bapak mengucapkan janji suci dihadapan kakek dan nenek

Postingan Populer