Antologi Keluarga Part II







Arhyzka

Engkau seorang wanita yang bernuansa. 
Dilahirkan sebelum anak kelima dalam keluarga.
Dari Rahim ibu yang bernama Siti Khadija
 Lalu dibesarkan oleh ayah Abdullah Zakaria.
Ia yang mengerti kala engkau meminta. 
Paham tatkala kau bersuka cita. 


Masa kanak-kanak kau tunaikan di larantuka hingga SMA.
Lantas kau pun berkiprah ke tanah Ujung Pandang katanya. 
Menyambung studi kebidanan untuk membantu Indonesia
Sekarang kau mengabdi di kota tetangga Singapura.
Berada di garda guna mengentaskan wabah corona.





Batam, Menjelang sahur 26 Ramadhan 1441 H









Sifa Anggraini Amalia

Dalam keluarga dia yang paling berbeda
Sebab dilahirkan lewat operasi sesar kata mama
Dilahirkan sebagai anak ke lima tahun Sembilan lima
Walau begitu dia yang wataknya mirip mama


Masa kecil saya sering ikut dengannya berjualan kue biasanya
Ia sekolah menengah pertama di oka sama seperti kakak2 sebelumnya
Lanjut di SMA N 1 Larantuka
Sikapnya yang mudah bercengkrama dengan siapa saja
Membuatnya cukup banyak relasinya

Akhirnya dia berhasil kuliah di Poltek ibukota
Pernah juga saya mengunjunginya sewaktu tamat SMA
Masa itu dia sudah di penghujung kuliah
Di Kupang ia kos dekat taman nostalgia
Tempat ini cukup familiar di kalangan anak muda

Paska kuliah ia terbang ke Batam tuk mencoba keahlian di bidangnya
Saat corona melanda ia sudah habis masa kontrak kerjanya
Akhirnya ia memilih berdagang kecil kecilan di rumah kami dekat bandara
Sambal mencari lowongan yang ada




H-3 Lebaran Syawal 1441 H

Saya Lima Juna(i)


Terlahir paska anak kelima. 
Awalnya disangka di kota Larantuka ternyata di kota kasih menurut cerita.
Tepatnya pada tanggal lima. Bulan sama dengan lahirnya Pancasila serta Presiden pertama Indonesia.
Pada tahun dimana  Timur-Timur telah berdiri gagah perkasa tanpa digdaya Indonesia.

Lantas saya di sekolahka  di Batu Ata. 
Sebuah Taman kanak-kanak yang paling bermakna bagi saya.
Saban hari diantar oleh Adik Ayah dengan motor Supra.
Masa-masa saya tertawa melihat teman kencing di celana.

Lanjut sekolah dasar di sebelah kubur Cina.  
Tak perlu bersusah payah sebab dekat dengan rumah saya.
Tak terasa saya menuntaskan Sekolah Menengah Pertama dan SMA di Kota Tetangga Samarinda.
Beranjak ke jenjang kuliah saya mengambil jurusan pengelola sekolah di kota Surabaya.
Hingga semester lima saya tetap bertahan agar bisa menamatkannya. Semoga Saja

Tatkala wabah corona akhirnya pemerintah menjeda aktivitas pendidikan
Hanya saja bukan libur, melainkan dengan cara non tatap muka
Lalu saya memilih singgah sebentar di Batam tuk menengok kuburan Ayah saya
Sekaligus kakak Arhyzka dan Amalia
Seruan yang beredar salah satunya di rumah aja
Untuk memutus rantai corona 
Imbasnya saya tak pernah berkeliling kota di ujung pulau Sumatra


Unkown Place, Ramadhan 1441 H






Novianti Putri Fauzia(h)

Dia berada di dunia setelah saya
Tepat pada akhir November masa kepemimpinan Bu Mega
Karena paling kecil membuat kasih saying Ayah cukup besar baginya
Bahkan saat saya dan dia berseteru, maka sudah pasti ayah menyalahkan saya
Meskipun bukan sepenuhnya salah saya


Tak apalah kata ayah, mengalah untuk putri kecilnya
Saya hanya mengiyakan saja
Waktu kanak kanak ,wajahnya sangat mirip anak ke lima
Pun setelah beranjak dewasa, watal mereka bagai pinang dibelah dua
Lulus SD ia sekolah pesantren di Jawa
Dalam keluarga, yang menempuh pendidikan berbasis pondok hanya kami berdua


Jika ada waktu senggang, saya biasa mengunjunginya
Walau jarak tempuh 5 jam dari Surabaya
Tapi mama selalu saja menyuruh saya menyambanginya
Sebab bagi mama, ia masih saja putri kecilnya yang tak tahu apa-apa




H-3 Lebaran Syawal 1441 H


Komentar

Postingan Populer