Kurikulum versi Long Distance Studying (LDS)
Kurikulum merupakan senjata kepala sekolah beserta jajarannya untuk dapat melaksakanakan kegiatan belajar mengajar (KBM). Dan kelas adalah sarana guna menunjang penerapan kurikulum yang cukup bagus. Selain itu Saylor J. Gallen dan William N.
Alexander, dalam bukunya: “Curriculum Planning” juga mengatakan hal serupa yakni “ Kurikulum adalah Keseluruhan usaha Sekolah untuk mempengaruhi belajar baik berlangsung di kelas, di halaman maupun di luar Sekolah”. Walaupun sedang tidak berada di sekolah implementasi dan fungsi kurikulum harus tetap terjaga.
Alexander, dalam bukunya: “Curriculum Planning” juga mengatakan hal serupa yakni “ Kurikulum adalah Keseluruhan usaha Sekolah untuk mempengaruhi belajar baik berlangsung di kelas, di halaman maupun di luar Sekolah”. Walaupun sedang tidak berada di sekolah implementasi dan fungsi kurikulum harus tetap terjaga.
Pada senin (15/06) Kemendikbud secara resmi telah mengumumkan perihal kebijakan belajar Daring (Online). Lewat siaran langsung di youtube resmi Kemendikbud, maka dibuat panduan Penyelenggaraan pada masa pandemi covid-19 ini diantaranya ialah Tahun ajaran baru bagi pendidikan tinggi dimulai pada Agustus 2020 mendatang. Dan untuk semua zona, metode pembelajaran tetap dilakukan secara Daring. Menurut beberapa survey banyak kendala yang dialami murid tatkala belajar daring (online). Diantaranya akses internet yang terbatas, kekurangan alat komunikasi berupa gadget, laptop dan semacamnya. Dengan begini maka bisa dikatakan aktivitas pendidikan dalam kondisi sekarang kurang efektif dan efisien. Ini harus menjadi bahan evaluasi agar selanjutnya tak terjadi lagi hal-hal teknis seperti ini.
Disamping itu kurikulum pun harus bisa diterapkan saat belajar. Hal ini dipandang cukup penting, karena kurikulum ialah darah dalam pendidikan. Sama seperti prinsip kurikulum yang fleksibel, mengikuti situasi kondisi yang ada. Hanya saja perlu bagi para pengelola sekolah untuk meramunya menjadi suatu yang kompleks agar dapat diterapkan. Tak lupa juga mengadakan koordinasi dengan orangtua/wali guna kelancaran sistem daring ini.
Jika mengacu kepada sebuah pengertian kurikulum yang dikemukakan oleh Nana Sudjana, seorang penulis buku yang berjudul “Pembinaan dan Pengembangan kurikulum di Sekolah”. Singkatnya Nana mengatakan bahwa kurikulum adalah program dan pengalaman belajar serta hasil pembelajaran yang diharapkan. Definisi ini sangat relevan dengan keadaan yang terjadi sekarang, peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dari sebelumnya. Suatu pengalaman yang baru tahun ini dirasakan oleh Negara Indonesia. Kurikulum mempunyai salah satu fungsi bagi orangtua, yakni agar dapat diketahui dan dikontrol secara langsung oleh para orangtua. Hal ini tentunya sangat sejalan saat kondisi pandemi. Justru orangtua bisa berperan banyak dalam meningkatkan serta mempertahankan prestasi belajar anak-anaknya selama di rumah.
Tak kalah pentingnya ialah fungsi tersebut bisa dirasakan jika peserta didik benar-benar terkontrol. Bukannya mereka malah sibuk dengan game online yang kita ketahui bersama menjadi aral bahkan sebelum pembelajaran online diterapkan. Memang benar kita telah memasuki abad 21, dimana semua alat-alat teknologi kian waktu bertambah canggih. Jangan sampai minat belajar anak jadi bekurang asbab game online atau film. Disinilah peran orangtua diperlukan, membimbing mereka agar tidak candu dengan hal-hal yang menyia-nyiakan waktu.
Sebelum diberlakukannya pemebelajaran online, masih seringkali kita menjumpai kurangnya konsentrasi dari belajar tatap muka. Misalnya ketika seorang guru selesai menjelaskan suatu materi, kemudian guru tersebut ingin beberapa muridnya untuk menjelaskan kembali penjelasannya tadi. Namun tak jarang ditemukan murid yang masih kurang mengerti terhadap apa yang disampaikan sang guru. Bukan karena tidak memperhatikan, hanya saja ia seakan-akan focus pada materi namun pikirannya terbang melayang ke objek yang lain. Hal ini berhubungan dengan masalah mendengar dan mendengarkan. Dua istilah ini sekilas tampak sama. Namun hakikatnya berbeda, baik dari segi makna serta cara melakukannya.
Semua orang bisa mendengar namun tidak semua orang mampu mendengarkan. Contoh mendengar seperti kita mendengar suara kendaraan di jalan, suara percakapan orang disekitar atau suara binatang. Sedangkan mendengarkan lebih kepada memahami suatu masalah yang sedang disampaikan oleh komunikator kepada kita sebagai komunikan. Ini sangat perlu ditinjau kembali mengingat pembelajaran untuk murid-murid sekarang masih secara online. Bagaimana bisa mereka mendengarkan dengan baik tatkala non tatap muka. Baik itu menggunakan google classroom, grup whatsapp, ataupun via zoom.
Disinilah dibutuhkan peran orangtua guna membantu para guru supaya materi yang disampaikan dapat dipahami dan dimengerti secara global. Kejadian yang sering terulang contohnya ialah belajar via grup whatsapp. Dimana sang guru menyampaikan materi lewat voice note (Audio). Belum bisa dipastikan apakah sang murid mendengarkan dengan saksama materi tersebut. Maka orangtua sebagai pihak ketiga diharapkan mampu membimbing terkhusus bagi siswa di jenjang SD dan SMP.
Jika hal ini terus berlanjut maka efektifitas dalam pembelajaran online tak akan dapat tercapai. Oleh karena itu harus diperhatikan beberapa kendala berikut sebagai berikut :
1. Materi yang di sampaikan
Guru harus memastikan apakah materi dapat tersampaikan dengan baik. Caranya dengan menyuruh murid untuk membuat review dari materi tersebut.atau bisa juga memberikan soal harian yang berkaitan dengan materi tersebut, dengan begitu materi pasti akan dipelajari dengan baik oleh sang murid. Yang kerapkali terjadi adalah guru menyampaikan materi dan menghimbau murid untuk membukanya. Dan itu sudah cukup untuk menjadi penilaian kehadiran/keaktifan murid dalam mengikuti materi. Kesannya antusiasme murid dalam belajar akan berkurang jika terus diberlakukan seperti ini.
2. Profesionalitas
.Lebih condong kepada waktu belajar yang kondusif. Contohnya ialah menyampaikan materi di luar jam mata pelajaran. Ini sering kami temui khususnya di jenjang perguruan tinggi. Bahkan dosen pun pernah menyampaikan materi saat malam.hal ini membuat kami sebagai mahasiswa akan acuh tak acuh. Pada akhirnya kami lebih memilih tidur daripada mendengarkan materi.
3. Kesamarataan
Yakni berkaitan dengan tiap-tiap murid yang tinggal di daerah masing-masing. Tak semua dari mereka dapat mengakses internet dengan mudah. Guru seyogyanya memberikan toleransi bagi murid di daerah susah sinyal. Seperti lambat mengirim tugas, jarang online, handphone/laptop yang bermasalah dan lain sebagainya.


Komentar
Posting Komentar