Menela'ah Pesan Tersirat Pancasila
Adzan shubuh mulai terdengar. Aku dan teman-teman bergegas menuju Masjid yang tak jauh dari asrama. Sudah seyogyanya kami sebagai anak pesantren melakukan rutinan kegiatan ini. Selepas sholat shubuh, para santri membentuk lingkaran (Halaqoh) untuk wirid berjama’ah serta mengaji Al-Qur’an. Masjid Aqshal Madinah tampak megah. Dengan serambi masjid yang terbuka menjadikannya tak perlu menggunakan AC. Dan seperti namanya yang mengadopsi dari nama masjid di palestina, kubah masjid ini pun di desain agak semirip mungkin dengan Masjid Al-Aqsha. Suara wirid pun terdengar di setiap sisinya. Memecah keheningan pesantren yang luasnya sekitar 5 hektar ini. Sungguh suatu suasana yang menyejukkan hati lagi pikiran.
Saat ini aku berkuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Surabaya. Kampus yang tak terlalu terkenal namun aku bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk melanjutkan studi paska SMA. Sebuah kampus yang mengintegrasikan pendidikan berbasis tauhid dengan perguruan tinggi seperti pada umumnya. Sehingga memiliki dua program yaitu Reguler dan Takahassus. Dan aku masuk jalur Takhassus. Perbedaan yang mencolok antara kedua program ini yakni yang di Takhassus berasrama sedangkan Reguler tidak. Mereka bebas tinggal dimana, baik kontrakan, kos-kosan ataupun rumah sendiri bagi yang berdomisili di kota Pahlawan.
Waktu sarapan telah tiba, saatnya kami bergegas agar tidak terlambat masuk kuliah. Tatkala sedang berjalan menuju dapur, seseorang menepuk pundakku “Jun,” sapanya. Ku tengok ternyata orang itu tak lain sahabat ku. Kami bertetangga kamar. “Iya Iq” jawabku pada Faiq. “Kamu sudah Mengerjakan tugasnya pak Anwar?” tanya faiq dengan raut wajah panik. Seketika aku langsung tersadar, ternyata hari ini ada mata kuliah pak Anwar. Dosen killer yang sangat disegani semua mahasiswa. Jangan harap kamu bisa masuk kelasnya meski terlambat semenit saja. Ia orangnya sangat disiplin, sebab selain penulis beliau juga seorang aktivis. Jadi paham benar karakter mahasiswa yang meremehkan mata kuliah. Aku menepuk jidatku sambil berseru “waduh, kacau nih. Memangnya tugas apa sih iq?” tanyaku balik. “Tentang Pancasila pokoknya” ujar Faiq. “Owh iya, pekan lalu kita diminta membuat tulisan mengenai implementasi pancasila dalam kehidupan Pesantren” Sambungku.
Bukan fenomena yang langka lagi mahasiswa mengerjakan tugas pada hari-H. Bahkan salah seorang dosenku pernah bergurau kalau mahasiswa itu mau dikasih deadline tugas berapa lama pun tetap saja mengerjakannya H-1 atau hari-H. Aku sendiri juga heran. Karena ketika kita mengerjakan tugas dengan waktu yang sempit semacam ada saja ide-ide cemerlang yang hinggap di pikiran. Barangkali inilah yang sering disebut “The Power of Kepepet”, sebuah ungkapan untuk mereka yang memiliki kemampuan melebihi dari biasanya dengan tempo yang cukup singkat. Selepas sarapan kupercepat langkahku menuju kamar. Kamar faiq tepat sebelah kamarku. Dalam satu kamar diisi oleh 3-4 santri. Segera kutulis sebisaku seperti yang ditugaskan oleh Pak Anwar.
“Dimana handukku ya?” tanyaku pada Asep teman sekamarku. Padahal aku sudah cari di tempat biasa namun tidak mendapatinya sama sekali. “Kan kemarin kamu jemur diluar” celetuk Asep. Ya Allah masa sih aku sudah menua. Cepat sekali lupa barang-barang yang kusimpan. Kamar mandi ada yang kosong, tak tunggu lama, seketika aku masuk dan mandi agar tak terlambat masuk kelas. Faiq yang telah bersiap-siap mengajakku bersama-sama pergi ke kampus. “ Ayo Jun, mau ini kena ciprat dari pak Anwar” dengan aksen Maduranya Faiq menasehatiku. Kendatipun mahasiswa yang jarang masuk sekalipun akan tergopoh-gopoh ke kelas. Siapa juga yang mau diceramahi oleh dosen killer. Masih untung cuman diceramahi, asalkan jangan nilainya saja yang dipangkas.
Jarum pendek mengarah ke angka 7 sedangkan jarum panjang mengarah ke angka 5, artinya masih ada 5 menit lagi untuk memulai perkuliahan. Kelas sangat riuh oleh suara teman-teman yang duluan sampai. Mayoritas membahas masalah tugas pak Anwar. Sudah lumrah di kelas kami suasana seperti ini sesaat sebelum pelajaran Pak Anwar dimulai. Sejurus kemudian pak Anwar memasuki ruangan. Seketika kelas hening, seperti tidak ada penghuninya sama sekali. “Assalamu’alaikum, selamat pagi teman-teman” Pak Anwar membuka perkuliahan pagi itu. “Wa’alaikumussalam” jawab kami serentak. Setelah beberapa saat menyampaikan pengantar, Pak Anwar pun langsung menuju ke inti perkuliahan. Apalagi kalau bukan tugas pekan lalu. “Siapa yang sudah mengerjakan acungkan tangannya” seru Pak Anwar pada kami semua. Terlihat beberapa mahasiswa mengangkat tanganya. “Kalau sudah semua, siapa yang berani lebih dulu membacakan karyanya,” tambah Pak Anwar kemudian. Nah, kalau sudah begini maka tak mudah untuk mengangkat tangan. Karena kami tahu bahwa beliau pernah menjadi editor salah satu media massa. Pastinya akan sangat teliti dalam segi tulisan maupun bacaan. Akan tetapi itu bukanlah sebuah halangan bagi Ahlun, Faiq, ia dikenal sangat pandai dalam berorasi. Hanya sekedar membacakan karya di depan teman-teman yang lain bukanlah hal yang sulit baginya.
Faiq pun mulai membaca. Semua mendengarkan dengan saksama. “Pesantren merupakan markas para pemuka agama. Mereka menempuh pendidikan Islami yang telah disuguhkan oleh pesantren. Kendatipun demikian, pesantren tak lupa akan eksistensinya di tengah Negara berkedaulatan. Negara yang menjadikan lima sila sebagai hal yang fundamental. Pesantren juga akan melakukan upacara pengibaran saat tiba tujuh belasan. Pun dengan hari lahirnya pancasila. Contoh di pesantren kami mengadakan lomba-lomba yang berkaitan dengan dasar negara kita itu. Sebut saja cerdas cermat bertemakan Urgensi pancasila dalam kehidupan bersosial. Hal lainnya ialah mengadakan lomba kaligrafi lima bulir dalam pancasila. Tak ketinggalan pentas seni yang juga bertemakan sendi pokok Indonesia tersebut.
“Cukup,” Sambar Pak Anwar. Komentar beliau tentang tulisan Faiq cukup bagus. Mengaitkan dengan isu-isu terkini. Sudah kukatakan bahwa Faiq memang jago dalam merangkai kata. Soalnya ia pernah bercerita padaku terkait kisahnya saat menempuh pendidikan di Madura dahulu. Yang jelas, ia pernah menjadi ketua ekstrakurikuler jurnalistik. Sampai-sampai pernah menerbitkan majalah sekolah. “Ayo, siapa lagi yang mau sukses bareng mas Faiq,” kelakar Pak Anwar sambil menawarkan yang lainnya. Faiq melirik ke arahku sambil memberi kode guna mengacungkan tangan. Ah.mentalku belum se-mantap kamu Iq batinku.
Cukup banyak mahasiswa yang berani membacakan hasil tulisannya hari ini. Bermacam-macam telah dikomentari Pak Anwar. Entah itu dari segi tulisan maupun maknanya. “Terima kasih saya sampaikan kepada teman-teman yang telah berani mencoba membaca dengan lantang.” Kata pak Anwar sambil menulis sesuatu di papan tulis. “tolong perhatikan ke depan. Saya ingin mengulas tulisan yang sudah kalian bacakan tadi.” lanjutnya. “Pancasila itu sendiri mengandung makna yang sangat luas sekali. Itulah mengapa Negara kita masih bisa eksis sampai sekarang. Dari Sabang sampai Merauke melebur dalam kalimat Bhineka Tunggal Ika. Semboyan yang mampu mengikis rasa ego dari dalam diri masing-masing kita semua. Lihat saja kalian semua dalam kelas ini, ada yang dari Madura dengan logat khasnya, ada yang dari papua dengan budaya lokalnya serta ada pula yang berasal dari tanah serambi Mekkah. Ini menandakan bahwa kalian telah berpadu menjadi satu sehingga kita bisa mewujudkan cita-cita besar bangsa ini,” tutupnya.
“Sampai disini ada yang kurang jelas?” pak Anwar mulai memancing agar diskusi kali ini tidak monolog. Selang beberapa detik salah seorang temanku mengangkat tangannya sambil berseru “Saya Pak!!”. itu adalah Ari. Mahasiwa yang terkenal paling kritis dalam kelas. Hampir setiap dosen yang masuk, pasti ia selalu melontarkan pertanyaan yang kontra dengan penyampaian dosen. “Begini pak,” Ari memulai argumennya. “Saya kira mengenai Pancasila ini, kita telah pelajari di sekolah dasar dahulu. Tepatnya dalam pelajaran PKN (Pendidikan Kewarganegaraan). Namun faktanya, kebanyakan orang hanya memahami teori yang kasat mata saja. Sedikit sekali yang mampu mengejawantahkan ke dalam kehidupan bernegaranya. Ini harusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Agar sekiranya, cita-cita Indonesia kedepannya dapat terealisasikan. Seperti yang telah dicanangkan yang kita sebut Indonesia emas 2045. Dengan 2 program besar yakni pembangunan infrastruktur serta SDM (Sumber Daya Manusia) yang berdayaguna. Bukanlah suatu hal muda memang, namun dengan bulir-bulir yang tertanam dalam nilai luhur Pancasila, maka akan sangat berpotensi besar guna mewujudkan impian kita semua,” pungkasnya.
“Baiklah, beri tepuk tangan dulu untuk saudara Ari Ibrahim” Sambut Pak Anwar disertai suara tepuk tangan yang menggema di dalam ruangan. Tak banyak yang tahu tentang Ari. Ia tipe orang yang introvert, sedikit teman namun luas akan wawasan. Ari sangat ramah kepada semua orang. Jika ada kegiatan mahasiswa, biasanya ia menjadi bagian Humas (Hubungan Masyarakat). Berkat kemampuan retorika serta diplomasinya yang memikat siapa saja lawan bicaranya. “Syukurlah, kalian sudah mulai mengenal lebih dalam landasan pokok bernegara kita. Esensi Pancasila itu bukan hanya dibacakan Pembina upacara dan diikuti oleh para siswa. Melainkan seberapa jauh nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila tersebut mampu membentuk sikap dan mental tiap-tiap masyarakat sehingga dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana yang telah diamanatkan dalam prolog Undang-Undang Dasar 1945,” lanjut Pak Anwar.
“Yang terakhir, saya ingin menyampaikan sebuah ilustrasi tentang salah satu poin yang terkandung dalam Pancasila. Suatu hari di sebuah sekolah, ada seorang guru yang sedang mengajar murid-muridnya. Kebetulan guru ini mengajar di jenjang kelas 3 SD. Di penghujung pelajaran ia membagikan kepada masing-masing murid 1 balon. Lalu guru itu meminta anak-anak untuk meniup balon tersebut. Setelah ditiup, mereka diminta untuk mengikat dan menulis nama mereka di balon tadi. Kemudian guru itu pun meminta mereka melepaskan balonnya ke udara dan menyuruh mereka agar mengambil balon milik masing-masing. Sepuluh menit berlalu, mereka masih belum mampu menggapainya sebab berdesak-desakan satu sama yang lainnya”.
“Akhirnya sang guru pun mengubah instruksinya. Ia meminta agar mereka mengambil balon milik siapa saja, akan tetapi setelah itu mereka harus mengembalikannya ke pemilik aslinya. Alhasil metode ini pun berhasil. Dalam kurun waktu lima menit, para murid telah memegang balonnya masing-masing”. “Apa yang bisa kita pelajari dari ilutrasi tadi?” Tanya Pak Anwar sambil menatap mata kami semua satu per-satu. Kelas hanya hening, terdengar suara detak jam dinding di belakang. “Pelajaran penting yang ingin saya sampaikan yaitu tentang persatuan. Bagaimana murid-murid tadi yang awalnya mencari balon milik pribadinya namun tidak bisa. Justru sebaliknya, dengan mereka mengambil punya teman maka mereka dengan cekatan mendapatkan balonnya yang terbang di udara. Ini mengajarkan kita bahwa betapa pentingnya saling membantu satu sama lain. Perlu mengikis sifat individual dalam diri kita dan juga ego yang membara. Maka selaras dengan sila ketiga kita, yang mengatakan bahwa Persatuan Indonesia.” Pak Anwar menutup mata kuliah sembari menghapus tulisannya di papan tulis.


Komentar
Posting Komentar