Kemana kita setelah Ini?


Tepat jam 09.30 saya dan husen mengendarai motor melaju diatas kecepatan 60. Tujuan kami ialah rumah bibi Husen yang letaknya di kota Madiun. Kota yang mendapat julukan kota pecel juga kota pendekar. Ini merupakan hajat kami berdua sejak Juni lalu. Namun kendala tugas akhir, maka dari itu kami memutuskan untuk pergi setelah upacara wisuda. Jalan Surabaya - Madiun tidak asing bagi saya, lantaran sudah beberapa kali melewati jalan ini. Mulai dari menjenguk adik, travelling atau bahkan saat ke Jogja tahun lalu. Mungkin sebab itulah Husen memilih saya sebagai partner jalannya. 

Jalanan macet dan padat. Beberapa kendaraan saling berdesakan seperti orang yang sedang terburu-buru. Langit sangat cerah, cahaya matahari menembus sel-sel kulit kami. Untungnya kami memakai jaket sehingga panasnya tak terlalu menusuk. Sepanjang perjalanan saya dan husen banyak berbincang tentang banyak hal. Mulai dari kisah masa kecil kami sampai suka duka masa kuliah. Tiba di perbatasan Nganjuk - Madiun kami mencari masjid terdekat. Untuk sekejap istirahat sholat dan makan. 

Selesai sholat kami melanjutkan perjalanan tepat pada pukul 12.10. Saya memacu motor dengan kecepatan sedang. Akhirnya tak lama kemudian kami tiba di wilayah stasiun Madiun. Seingat saya ini rute terakhir yang saya tau menuju rumah bibi Husen. Lalu kami melihat google maps sebentar kemudian melanjutkan perjalanan. Dari kejauhan sdh kelihatan patung 2 gajah yang menjadi clue rumah bibi Husen. Singkatnya kami tiba dengan selamat. Kami disambut hangat oleh keluarga Husen. Maklumlah sudah 8 tahun Mereka tak berjumpa. Rindu sepertinya diluapkan saat itu juga. Kami dipersilahkan masuk ke Rumah yang sederhana tersebut. Tak lama kemudia saya dan husen langsung berbaring di ruang tamu yang sudah disediakan tempat tidur buat kami. Badan kami serasa di pukul oleh beberapa orang. 

Husen dan bibinya sangat dekat sekali. Beliau adalah adik kandung dari almarhum Ayah Husen. Ditambah lagi wajah husen disebut sangat mirip dengan mendiang ayahnya. Meskipun tampak sederhana namun keluarga ini sangat ramah kepada kami. Terutama saya yang notabene bukan siapa-siapa mereka. Apa yang Husen inginkan selagi masih bisa dipenuhi, maka akan dipenuhi oleh bibinya itu. Saat malam tiba aku mulai teringat sesuatu. Yakni ada salah seorang teman kuliah kami yang juga berdomisili di Madiun. Tak tunggu lama, saya langsung menghubunginya. Kami lalau bertemu di salah satu warkop untuk sejenak bertukar cerita sebab lama tak jumpa. Ia biasa dipanggil Syatoto. Sudah keluar dari kampus sejak tahun lalu. Mungkin ada hal lain yang menjadi prioritas Syatoto. 

Keesokan harinya bertepatan dengan hari ahad. Hari libur Nasional. Saya dan husen berjalan melihat-lihat kampung sekitar. Husen memang orang yang tak suka berdiam diri di rumah. Maka dari itu selama di surabaya ia jarang sekali berdiam diri. 

Madiun dan sekitarnya memberikan pengalaman baru bagi kami berdua. Hiruk-pikuk kota, semilir angin desa maupun bangunan kokoh menjadikannya indah dengan caranya sendiri. See you next time madiun. 



Komentar

Postingan Populer