Tawakkal Memangnya Perlu?
Puasa Hari ke - 17
Ini tepat hari Sabtu. Sekolah di pesantren sudah mendekati waktu libur. Saya yang hanya seorang guru biasa ini, memiliki izin terlebih dahulu. Akhirnya saya diizinkan pulang tepat hari ini. Tiket saya sudah dipesan sepekan yang lalu. Sengaja mengingat harga tiket di e commercial semakin hari semakin naik. Saya pun diantar Rifa'i, teman smp dulu ke Bandara Sepinggan. Cuaca hari ini cukup terik. Panasnya menembus pori pori sehingga bulir-bulir keringat sedikit demi sedikit keluar. Saya dan Rifa'i tiba pukul 12 siang lewat sendikit. Dia mengantar saya sampai ke depan pintu masuk terminal bandara. Setelah berpamitan, saya segera masuk untuk check-in tiket. Suasana bandara sedikit lengang. Mungkin asbab masih ada yang belum libur. Saya langsung mengantri di loket yang cukup panjang. 3 orang dewasa sedang menimbang bagasi mereka. Cukup menjengkelkan sih, sebab mereka lama sekali. Bahkan beberapa orang yang sudah bosan mengantri lalu memilih loket lain.
Setelah tiba giliran saya, petugas menyuruh saya untuk langsung check-in mandiri di mesin bandara. Lantaran saya tidak membawa bagasi. Hanya sebuah ransel, kardus di tangan kanan serta helm di tangan kiri beserta amplang untuk buah tangan. Saya pun segera menghampiri mesin check-in lalu mengisi data. Setelah 2 menit akhirnya tiket saya pun dicetak otomatis oleh mesin canggih itu. Tak menunggu waktu lama, saya lalu membawa barang bawaan menuju ke ruang tunggu. Kali ini saya di gate 4. Cuaca diluar mulai gelap. Angin kencang terlihat menggoyangkan pepohonan sekitar bandara.
Tawakkal setelah Ikhtiar
Setelah berada di dalam pesawat kami pun mulai bersiap lepas landing. Langit semakin gelap. Baru kali ini saya melakukan perjalanan dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Saya hanya menguatkan hati saja. Mungkin ini sudah Allah rencanakan batin saya berseru. Perlahan pesawat mulai menukik keatas untuk segera terbang. Sesaat jantung saya perlahan berdetak lebih kencang. Apa mungkin saya merasa was-was?. Perasaan itu ditambah lagi dengan pesawat yang mulai bergetar tak beraturan. Tidak seperti biasanya, kali ini rasanya seperti naik mobil yang berjalan diatas jalan berlubang yang cukup banyak. Sehingga badan saya pun ikut tergoncang. Saya teringat beberapa cuplikan film barat. Dimana ketika dalam keadaan genting bahkan orang ateis sekalipun sampai mengucapkan "Oh My God". Ternyata itu spontanitas yang dilakukan diri kita. Karena pada dasarnya kita adalah manusia yang sesuai fitrah menyembah 1 Tuhan yang sama.
Lalu dalam hati saya langsung mengucapkan isi wirid pagi dan sore yang dulu sering saya baca. Bahkan semua doa yang saya hafal saya lafalkan dengan harap harap cemas. Semua pikiran saya merujuk kepada hal-hal buruk yang akan terjadi. Disinilah mungkin segala upaya tawakkal saya kerahkan. Semakin kuat getaran pesawat semakin memohon juga doa saya kepada Allah SWT. Sekitar 10 menit kami terguncang di atas awan akhirnya perlahan guncangan itupun sedikit reda. Saya melirik ke jendela cuaca pun mulai cerah. Alhamdulillah ucap batin saya lirih. Jantung yang tadinya bergejolak sedikit membaik ketika melihat sinar mentari semakin cerah. Laa Haula Wa Laa Quwwata Illah Billah. Masyaallah, Allah masih sayang kepada kami, mungkin masih diberi kesempatan untuk kembali ke jalan yang Dia Ridhoi.
Singkat cerita awak pesawat mengumumkan sebentar lagi akan mendarat di Juanda Surabaya. Namun setelah 10 menit pesawat masih saja berada diatas awan. Tak lama kemudian kapten pesawat langsung mengumumkan bahwa cuaca di Surabaya sedang tidak baik. Demi keselamatan penumpang maka pendaratan ditunda sekitar 15-20 menit. Ya Allah, batin saya mulau kacau lagi. Sekali lagi saya menyerahkan diri sepenuhnya berada dalam genggaman Allah SWT. Doa kali ini benar benar serius dan khusyuk. Sampai-sampai air mata saya sedikit mengalir mengingat suasana yang cukup mencekam. Pesawat kami lalu mengambil rute bagian Timur kota Surabaya. Sering dengan itu kapten pun juga menyampaikan, jika kondisi tidak memungkinkan maka kami akan memilih opsi mendarat di Denpasar. Innalilahi. Batin saya tak lama mulai melafal doa doa pamungkas lagi. Dengan segala keterbatasan saya sebagai insan yang berdosa saya mengakui itu dalam keadaan darurat ini. "Ya Allah berikanlah kemudahan di dalam urusan kami, jangan engkau persulit Yaa Allah" . Berkali-kali doa ini saya ucapkan sampai 10 menit lamanya kami melayang-layang diatas udara menunggu cuaca membaik. Barulah setelah 20 menit lebih, awak pesawat mengumumkan bahwa kami akhirnya dipersilahkan mendarat di Juanda Surabaya. Alhamdulillah saya menghembuskan nafas lega sambil mengucap syukur yang tiada terkira.
Fa Idzaa 'Azamta Fa Tawakkal Alallah
Ayat ini merupakan 1 ayat dari sekian ayat yang saya hafal. Bahkan sering saya ulang ulang ketika selesai berikhtiar dengan maksimal. Allah memang membenci kita berbuat dosa. Namun yang Dia benci itu dosanya bukan kitanya. Bahkan jika kesalahan kita besar gunung sekalipun maka Ampunan Allah seluas samudera. Allah memang mendengar doa lalu mengabulkan nya disaat yang tepat. Yakni disaat kita benar-benar membutuhkan. Itu hikmah yang dapat saya ambil dalam Safar yang cukup memacu adrenalin ini.
Surabaya Menjelang Buka puasa
08 April 2023


Komentar
Posting Komentar